Untuk mempermudah pengenalan, konstruksi pesawat udara dibagi menjadi 3 (tiga) bagian besar:
1. Sayap (Wing)
Sayap merupakan bagian krusial yang pada umumnya menjadi tempat bagi tangki bahan bakar, mesin pesawat (engine), dan roda pendarat utama. Fungsi utama sayap adalah menghasilkan gaya angkat (lift) dengan prinsip aerodinamika.
- Proses Terjadinya Lift: Bila pesawat bergerak, aliran udara yang melewati bagian atas sayap (V1) lebih cepat daripada bagian bawah sayap (V2). Karena kecepatan berbanding terbalik dengan tekanan udara, maka tekanan di bawah sayap (P2) menjadi lebih besar daripada tekanan di atas sayap (P1), sehingga sayap terangkat ke atas.
- Istilah Aliran Udara: Titik di bagian depan sayap (leading edge) di mana kecepatan udara tepat menjadi nol disebut Stagnation Point. Sedangkan titik di mana aliran udara berubah menjadi pusaran (turbulent) disebut Transition Point.
Klasifikasi Sayap Pesawat:
A. Berdasarkan Jumlah:
- Monoplane (Sayap tunggal untuk kecepatan tinggi, misal B-737).
- Biplane (Sayap ganda untuk lift maksimal, misal Boxer).
- Sesquiplane (Sayap campuran untuk tambahan lift dan tempat tangki).
B. Berdasarkan Bentuk:
- Straight Wing (Lurus/persegi empat untuk lift maksimal, misal Twin Otter).
- Sweep-back Wing (Pangkal lebih besar untuk lift dan kecepatan, misal DC-3).
- Delta Wing (Segitiga untuk kecepatan supersonik, misal Concorde, F-16).
C. Berdasarkan Kedudukan (Instalasi):
- High Wing: Sayap di atas untuk lift maksimal (misal Porter, Twin Otter).
- Lower Wing: Sayap di bawah untuk kecepatan tinggi (misal DC-3).
- Mid Wing: Sayap di tengah untuk kecepatan tinggi (misal B-25 Bomber).
- Parasol Wing & Gull Wing: Untuk lift yang besar (Gull wing menyerupai sayap elang laut).
- Inverted Gull Wing & Dehydral Wing: Kedudukan sayap menekuk untuk kecepatan tinggi.
2. Badan Pesawat (Fuselage)
Bentuk badan pesawat harus aerodinamis (streamline), kuat, namun relatif ringan. Fuselage adalah ruangan pelindung bagi awak dan penumpang, serta tempat instrumen penerbangan, kabel kontrol, pipa bahan bakar, dan sistem oksigen. Terdapat 3 tipe konstruksi rangka fuselage:
A. Konstruksi Semi-Monocoque: Paling luas digunakan dari pesawat ringan hingga raksasa. Terdiri dari:
- Vertical Structure (Ring, Former, Bulkhead): Memberikan bentuk penampang melintang dan keuletan (rigid). Bulkhead dipasang di area berbeban berat seperti landing gear dan mesin.
- Horizontal Structure (Longerons, Stringer): Menahan beban mendatar dan tempat melekatnya skin (kulit pesawat). Stringer dipasang di sela-sela longerons untuk membantu menahan beban.
B. Konstruksi Monocoque: Kekuatan sepenuhnya ditumpukan pada kulit (skin) badan pesawat (biasanya berbahan plywood), tanpa bantuan longerons atau stringer.
C. Konstruksi Truss: Rangka dari pipa-pipa baja ringan yang dilas, dengan kulit luar berbahan fabric (kain) yang di-dope dan dicat. Umum digunakan pada pesawat kecil kuno.
3. Bagian Ekor (Empennage / Aircraft Stabilizer)
Berfungsi mengimbangi gaya saat penerbangan agar pesawat stabil.
A. Vertical Stabilizer: Sirip tegak (tetap) untuk mengimbangi gaya puntir dari putaran baling-baling. Terdiri dari Rib (menahan gaya mendatar), Spars (menahan beban vertikal), Stringer, dan Skin. Bagian sirip ini yang bisa digerakkan ke kiri/kanan untuk berbelok disebut Rudder.
B. Horizontal Stabilizer: Sirip mendatar (tetap) untuk mengimbangi berat komponen mesin. Memiliki satu main spars (spar utama) yang menghubungkannya ke fuselage. Bagian yang bisa digerakkan ke atas/bawah untuk menaikkan/menurunkan hidung pesawat disebut Elevator.