Materi 5 dari 5

Operasi Lapangan dan Penanganan Pasca-Insiden

Prosedur Penanggulangan Keadaan Darurat 2 menit baca

Tugas operasional ARFF di lapangan bukan sekadar menyemprotkan air dan busa. Ada aturan komando yang harus dipatuhi dan tindakan lanjutan setelah api berhasil dipadamkan.

1. Rantai Komando di Lapangan (On Scene Commander) Ketika terjadi insiden besar (Siaga III) yang melibatkan bantuan dari Pemadam Kebakaran Pemerintah Daerah (Pemda) atau instansi lain, harus ada satu komando yang jelas agar tidak terjadi kekacauan di lokasi. Dalam hal ini, Pimpinan ARFF / Fire Commander bertindak sebagai On Scene Commander (Komandan Insiden di Lapangan). Seluruh unit bantuan dari luar bandara wajib berkoordinasi dan mengikuti instruksi taktis dari pimpinan ARFF, karena ARFF lah yang paling memahami karakteristik teknis kebakaran pesawat udara.

2. Fase Pendinginan Total (Overhaul) Setelah api utama berhasil dipadamkan, operasi belum selesai. Personel ARFF wajib melakukan fase Overhaul, yaitu proses inspeksi dan pendinginan total ke seluruh sela sela badan pesawat, mesin, dan kargo. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada titik api tersembunyi (hidden spot) yang berpotensi memicu penyalaan kembali (re ignition) akibat sisa panas dari material pesawat.

3. Perlindungan Barang Bukti (Preservation of Evidence) Ini adalah fase krusial pasca insiden. Setelah seluruh penumpang dievakuasi dan dipastikan tidak ada lagi bahaya api, area kecelakaan harus segera diamankan (disterilkan). Personel ARFF dilarang memindahkan, membersihkan, atau mengubah posisi puing puing pesawat (termasuk jenazah, jika ada), kecuali jika hal tersebut menghalangi proses evakuasi. Posisi puing dan kondisi sisa kebakaran adalah barang bukti sangat vital yang harus dijaga keutuhannya untuk keperluan investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam mencari tahu penyebab utama kecelakaan.

Selesai
Anda sudah berada di materi terakhir.